Rintikan hujan turun perlahan membasahi Hutan Kemuning ketika langkah kaki menyusuri jalan kecil di dalam hutan. Musim hujan ini membuat tanah yang diinjak terasa makin lembap dan licin. Di antara naungan tanaman kopi yang menjadi ciri khas hutan yang terletak di Kabupaten Temanggung ini, muncul sosok putih memanjang yang sering disebut ‘pocong’ bagi kalangan pecintanya. Bukan melayang di antara pepohonan, melainkan tanaman kecil yang nyaris tak terlihat. Mereka biasa dikenal sebagai ghost orchid atau anggrek hantu/pocong (Epipogium roseum (D.Don) Lindl.)

Sebutan ‘hantu’ bagi anggrek ini bukan tanpa alasan, kemunculan bunganya yang berwarna putih dianggap seperti roh yang muncul secara tiba-tiba di lantai hutan. Ditambah, tempat hidupnya membutuhkan lokasi yang lembap dan teduh di bawah naungan pohon dengan sedikit sinar matahari. Anggrek ini tidak memiliki daun, bahkan termasuk tumbuhan achlorophyllous (tidak berklorofil), sehingga tidak melakukan fotosintesis dalam mendapatkan makanan. Tanaman kecil nan liar ini termasuk anggrek holomycotropic atau hidup bersimbiosis dengan mikoriza dan jamur di sekitar tempat hidupnya untuk mendapatkan makanan. Habitatnya yang spesifik membuat anggrek hantu cukup sulit untuk dijadikan tanaman peliharaan di rumah.

Penyebaran anggrek hantu dimulai dari kawasan tropis hingga subtropis Asia, Australia, India dan Afrika, termasuk Indonesia. Beruntungnya, Hutan Kemuning menjadi salah satu lokasi perjumpaan langsung anggrek liar ini. Di Kemuning, mereka ditemukan tumbuh di antara lapisan seresah yang dinaungi tanaman kopi. Kehadiran tanaman yang seringkali muncul saat musim hujan ini mengingatkan bahwa hutan bukan hanya tentang pohon besar, melainkan juga tanaman-tanaman kecil yang seringkali luput dari pandangan.
Pas seperti namanya ‘hantu’, anggrek ini justru lebih sering terlihat pada malam hari. Bunganya yang berwarna putih tampak kontras dengan gelapnya malam dan cokelatnya tanah hutan. Namun, kondisi itu sekaligus menjadi tantangan. Gelapnya malam, kondisi musim hujan, jalan menanjak, dan medan berlumpur menjadi rintangan yang harus dilalui untuk menjumpai sosok putih mungil ini di Hutan Kemuning. Apalagi, berdasar literatur, anggrek hantu hanya muncul sebentar saja di permukaan tanah, antara 1 – 2 minggu, sebelum kemudian menghilang kembali. Secara umum, anggrek ini tumbuh di wilayah dengan curah hujan tinggi, terutama di hutan hujan tropis. Namun, ia juga dapat dijumpai di hutan yang lebih terbuka, padang rumput, hingga area kebun, selama kondisi lembap dan habitatnya masih mendukung.
Sungguh pengalaman yang istimewa ketika bisa menyaksikan kemunculan anggrek hantu ini di alam! Kalau teman-teman tertarik berpetualang untuk melihat langsung anggrek hantu liar, boleh banget kita main bareng ke Hutan Kemuning pada rentang waktu November – Desember atau saat musim hujan, ya!
Artikel ini ditulis oleh Cahyandra Tresno, seorang peneliti herpetofauna, saat kunjungannya ke Hutan Kemuning.
Referensi:
[1] Kurniawan, F. Y., Putri, F., Suyoko, A., & Masyhuri, H. (2020). The Diversity of Wild Orchids in the Southern Slope of Mount Merapi, Yogyakarta, Indonesia Eight Years After the 2010 Eruption. Biodiversitas, 21(9), 4457–4465. https://doi.org/10.13057/biodiv/d210964
[2] Yagame, T., & Yamato, Æ. M. (2007). Developmental Processes of Achlorophyllous Orchid , Epipogium roseum : From Seed Germination to Flowering Under Symbiotic Cultivation with Mycorrhizal Fungus. J Plant Res, 120, 229–236. https://doi.org/10.1007/s10265-006-0044-1
[3] Zhou, X. A., Lin, H. A., Fan, X. A., & Gao, J. A. (2012). Autonomous Self-pollination and Insect Visitation in a Saprophytic Orchid , Epipogium roseum ( D . Don ) Lindl . Australian Journal of Botany, 60, 154–159. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1071/BT11265 Autonomous
[4] Epipogium roseum. https://www.anbg.gov.au/cpbr/cd-keys/RFKOrchids/key/rfkorchids/Media/Html/Epipogium_roseum.htm#:~:text=The%20plants%20are%20above%20ground,from%20flowering%20to%20seed%20dispersal. Diakses Desember 2025

